![]() |
|
|||
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
||||
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
.:: POPULAR ARTICLES ::.
Newest ArticleCategory: General Sistem Peresepan Obat Di Indonesia Bermasalah
• Produksi obat di Indonesia tidak efisien dengan 200 pabrik obat dan konsumsi rendah • Terlalu banyak pabrik, sebagian besar mengalami idle capacity yang sangat tidak efisien dan terjadi persaingan tidak sehat • Terlalu banyak obat beredar di pasar Indonesia utk diingat namanya yang banyak mirip. Banyak mempunyai ijin edar, tapi sering dihentikan produksi seenaknya; ini perlu diatur • Ijin me-too drugs terlalu mudah, tapi banyak yang justru mubazir dalam efektivitasnya. Syarat perijinan perlu diperketat dan diubah. Harga obat sendiri bermasalah (irasional) • Apotik menyesuaikan dg menyediakan hanya satu Branded Generic dari puluhan nama yg tersedia utk satu nama generik. Setiap apotik sedia satu-dua branded generic yg “terpilih olehnya” yang randomly distributed among all pharmacies (bilateral deals dengan komisi) • Akibatnya pasien yg bawa resep lari2 ke ‘semua’ apotik tanpa hasil (unproductive) • Apoteker TIDAK kenal nama generik untuk bisa mengganti obatnya dg yg sama • Memang sebaiknya prescibing harus dg nama generik dan boleh disubstitute oleh apotik, namun dokter - seperti apoteker dan asisiten apoteker - juga tidak mengenal nama generik obat Konklusi: DepKes bersama POM perlu adakan REFORMASI karena masalah obat kita sudah merupakan GURITA yang sangat terlambat ditangani 1. Perlu PANSUS OBAT untk reformasi TOTAL, dimulai dg membatasi / menutup sejumlah pabrik obat dan membatasi jumlah ‘branded generic’ dari satu nama generik 2. Mendidik dokter, apoteker dan asisten apoteker untuk mengenal nama generik dengan ejaan pemulisan yang benar (Indonesia dan Inggris), bila dipekerjakan di apotik 3. MIMS harus lebih akuntabel dalam informasi dan tidak boleh menerima indikasi obat dari pabrik obat yg tidak sesuai dg ‘Lable’ (indikasi), sedang daftar golongan SUPLEMEN tidak boleh disatukan dalam buku MIMS untuk OBAT supaya membedakan statusnya 4. Harus dibuat Peraturan2 baru dan Action Plans Iwan Darmansjah, Mantan Ketua Panitia Penilai Obat DepKes/POM Print Article   Send Article |
|
||||||||
| Home | Profile | Medical Articles | Popular Articles | Miscellaneous Topics | Discussion | Links | Guestbook | Contact Me |
Best Viewed With Netscape 7.0 or Internet Explorer Copyright © 2002 - http://www.iwandarmansjah.web.id Web Development And Hosting By: a3plusmedia.NET |